Pembicaraan tidak selalu ber arti pemahaman antara dua jiwa Kata-kata yang berasal dari bibir-bibir dan lidah-lidah tidak selalu bisa membawa sepasang hati bersama Ada sesuatu yang lebih agung dan lebih murni dari apa yang diutarakan mulut.

Minggu, Juli 29, 2012

DIALOG YOHANES DENGAN PARA ULAMA MAZHAB YANG EMPAT II



Akhthab Kharazmi juga meriwayatkan hadis ini di dalam kitab al-Manaqib —dia juga termasuk dari ulama Anda— dari Muadz bin Jabal yang berkata, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Wahai Ali, aku mengunggulimu dengan kenabian, karena tidak ada nabi sepeninggalku; namun kamu mengungguli manusia dengan tujuh hal, yang tidak ada seorang pun dari bangsa Quraisy yang mendebatmu tentang hal itu: kamu adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah di antara mereka, orang yang paling menunaikan perintah Allah dan perjanjian dengan-Nya, orang yang paling rata di dalam pembagian, orang yang paling adil kepada rakyat, orang yang paling tahu tentang permasalahan dan orang yang paling besar keutamaannya di sisi Allah pada hari kiamat."[252]

Penulis kitab Kifayah ath-Thalib, yang merupakan salah seorang dari ulama Anda berkata, "Hadis ini hadis hasan yang tinggi, dan al-Hafidz Abu Na'im meriwayatkannya di dalam kitab Hilyah al-Awliya."[253]


Yohanes berkata, "Wahai para pemimpin Islam, hadis-hadis yang sahih ini yang diriwayatkan oleh para Imam Anda, dengan jelas mengatakan kelebih-utamaan dan kelebih-baikan Ali atas seluruh manusia. Lantas, apa dosa kaum Rafidhahl Sesungguhnya ini adalah semata-mata dosa dari para ulama Anda dan orang-orang yang meriwayatkan dengan tidak benar serta membuat-buat kebohongan atas Allah dan Rasul-Nya."

Mereka berkata, "Wahai Yohanes, sesungguhnya mereka tidak meriwayatkan dengan tidak benar, dan juga tidak membuat-buat kebohongan, hanya saja hadis-hadis ini mempunyai takwil dan pertentangan."

Yohanes berkata, "Takwil yang mana yang dapat diterima terhadap hadis-hadis yang ditujukan secara khusus kepada manusia tertentu. Karena nas hadis-hadis ini secara eksplisit mengatakan bahwa Ali lebih baik dari Abu Bakar, dan ini tidak dapat ditakwilkan kecuali jika Anda mengeluarkan Abu Bakar dari kelompok manusia. Kalaupun seumpamanya kita menerima bahwa hadis-hadis ini tidak menunjukkan kepada makna di atas, namun coba beritahukan kepada saya mana di antara mereka berdua yang paling banyak berjihad?"

Mereka menjawab, "Ali."

Yohanes berkata, "Allah SWT telah berfirman, 'Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.' (QS. an-Nisa: 95)

Bunyi nas ini begitu amat jelas."

Mereka berkata, "Abu Bakar juga seorang mujahid. Maka Oleh karena itu, tidak harus Ali lebih utama dari Abu Bakar."

Yohanes berkata, "Jihad yang lebih sedikit apabila dibandingkan kepada jihad yang lebih banyak, maka dianggap duduk. Kalaupun seumpamanya maknanya demikian, lantas apa yang dimaksud oleh Anda dengan 'orang yang lebih utama'?"

Mereka menjawab, "Yaitu orang yang terkumpul pada dirinya berbagai kesempurnaan dan keutamaan, baik yang berupa bawaan maupun yang diperoleh karena jerih payah usaha, seperti kemuliaan asal-usul, keilmuan, kezuhudan, keberanian, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan cabang dari sifat-sifat ini."

Yohanes berkata, "Seluruh keutamaan ini ada pada diri Ali as, dalam bentuk yang lebih baik dibandingkan yang lainnya."

Yohanes berkata, "Adapun dari segi kemuliaan asal (nasab), dia adalah putra paman Rasulullah saw, suami dari putrinya dan ayah dari kedua cucunya.

Adapun dari sisi ilmu, Rasulullah saw telah bersabda, 'Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.'[254] Akal dapat memahami bahwa seseorang tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari sebuah kota kecuali jika dia mengambil dari pintunya. Sehingga dengan begitu maka jalan untuk mengambil manfaat dari Rasulullah saw hanya melalui Ali as. Ini adalah kedudukan yang tinggi. Rasulullah saw juga telah bersabda, 'Orang yang paling mengetahui di antara kamu adalah Ali.'[255] Kepadanyalah dinisbatkan seluruh permasalahan, berhentinya seluruh golongan, dan berpihaknya seluruh kelompok. Dia adalah pemuka dan sumber keutamaan, serta pemenang yang memenangkan arenanya. Setiap orang yang unggul di dalamnya semuanya mengambil darinya, mengikuti jejaknya dan meniru contohnya. Anda tentu telah mengetahui bahwa semulia-mulianya ilmu adalah tentang Ketuhanan. Ilmu ini dikutip dari perkataannya, dinukil darinya dan bermula dari dirinya.

Sesungguhnya kelompok Mu'tazilah, mereka itu adalah ahli fikir. Dari mereka inilah manusia belajar tentang ilmu ini, dan mereka itu adalah murid-muridnya. Karena guru besar mereka yang bernama Washil bin 'Atha adalah murid Abi Hasyim Abdullah bin Muhammad ibn al-Hanafiyyah,[256] sementara Abi Hasyim Abdullah adalah murid ayahnya, dan ayahnya adalah murid Ali bin Abi Thalib as.

Adapun kelompok Asy'ari, mereka itu berakhir kepada Abu Hasan al-Asy'ari. Dia adalah murid dari Abu Ali al-Juba'i, dan Abu Ali al-Juba'i adalah murid Washil bin 'Atha.[257]

Adapun kelompok Imamiyyah dan Zaidiyyah, bermuaranya mereka kepadanya amat jelas sekali.

Adapun dalam bidang ilmu fikih, dia itu adalah pokok dan dasarnya. Seluruh fakih di dalam Islam menisbatkan diri mereka kepadanya.

Adapun Malik, dia mengambil fikih dari Rabi'ah ar-Ra'y, sementara Rabi'ah ar-Ra'y mengambil dari 'lkrimah, 'lkrimah mengambilnya dari Abdullah, dan Abdullah mengambilnya dari Ali.

Adapun Abu Hanifah mengambil fikih dari Imam Ja'far ash-Shadiq as. Sementara Syafi’i adalah murid Malik, dan Hanbali adalah murid Syafi’i.[258] Adapun tentang merujuknya para fukaha Syi'ah kepadanya adalah sesuatu yang jelas sekali. Begitu juga tentang merujuknya para fukaha dari kalangan para sahabat kepadanya adalah sesuatu yang jelas, seperti Ibnu Abbas dan yang lainnya. Berikut ini adalah perkataan Umar yang diucapkannya tidak hanya sekali, 'Aku tidak dilanda masalah selama masih ada Abul Hasan.'[259] Umar juga mengatakan, 'Seandainya tidak ada Ali maka celakalah Umar."[260]

Turmudzi telah berkata di dalam kitab sahihnya, dan begitu juga al-Baghawi telah berkata dari Abu Bakar, 'Rasulullah saw telah bersabda, 'Barangsiapa yang hendak melihat kepada Adam di dalam keilmuannya, kepada Nuh di dalam pemahamannya, kepada Yahya bin Zakaria di dalam kezuhudannya, dan kepada Musa bin Imran di dalam kekuatannya, maka hendaklah dia melihat kepada Ali bin Abi Thalib.'[261]

Baihaqi telah berkata, 'Rasulullah saw telah bersabda, 'Barangsiapa yang hendak melihat kepada Adam di dalam keilmuannya, kepada Nuh di dalam ketakwaannya, kepada Ibrahim di dalam kesabarannya, kepada Musa di dalam kewibawaannya, dan kepada Isa di dalam ibadahnya, maka hendaklah dia melihat kepada Ali bin Abi Thalib.'[262] Dialah yang telah menjelaskan hukuman meminum minum-an keras,[263] yang telah memberikan fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang melahirkan pada usia enam bulan kandungannya.[264] Dialah yang telah menyelesaikan pembagian uang dirham kepada pemilik adonan roti.[265] Dia juga yang telah memerintahkan untuk membelah seorang anak menjadi dua bagian.[266] Dialah yang telah memerintahkan untuk memenggal leher seorang hamba sahaya, dan yang bertindak sebagai hakim pada kasus orang yang mempunyai dua kepala."[267] Dia juga yang telah menjelaskan hukum makar (bughat),[268] dan dia juga yang telah memberi fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang hamil karena zina.[269]

Salah satu di antara cabang ilmu adalah ilmu tafsir. Manusia telah mengetahui kedudukan Ibnu Abbas di dalam ilmu tafsir. Dia adalah murid Ali. Dia telah ditanya, 'Bagaimana kedudukan ilmumu dibandingkan ilmu putra pamanmu?' Ibnu Abbas menjawab, 'Laksana setetes air hujan di lautan yang sangat luas.'"[270]
Salah satu cabang ilmu yang lain adalah ilmu tarekat dan ilmu hakikat. Anda mengetahui bahwa tokoh-tokoh ilmu ini yang ada di seluruh negeri Islam, mereka semua berakhir kepadanya, dan berhenti di sisinya. Asy-Syibli, al-Hambali, Sirri as-Saqathi, Abu Zaid al-Busthami, Abu Mahfudz, yang dikenal dengan sebutan al-Kurkhi, dan yang lain-nya, dengan tegas mengakui hal ini. Cukup menjadi bukti bagi yang demikian itu, sobekan-sobekan yang menjadi slogan mereka, dan mereka menisbatkan sobekan-sobekan tersebut —melalui sanad mu'an'an— kepadanya, dan mengatakan bahwa dialah yang telah menuliskannya.[271]

Di antara cabang ilmu berikutnya adalah ilmu nahwu. Seluruh manusia telah mengetahui bahwa Ali as lah yang telah menciptakannya. Dia telah mendiktekan berbagai kumpulan yang hampir mendekati katagori mukjizat kepada Abul Aswad ad-Du`ali. Karena kemampuan manusia biasa tidak cukup untuk dapat menghasilkan penemuan yang seperti ini.

Bagaimana bisa memiliki sifat seperti ini seorang laki-laki yang manakala ditanya, apa arti kata abban, dia berkata, 'Aku tidak akan mengatakan tentang Kitab Allah berdasarkan pikiranku', dan memberikan putusan tentang bagian warisan yang diterima kakek dengan seratus perkataan yang berbeda satu sama lainnya. Dia mengatakan, 'Jika aku menyimpang maka luruskanlah, dan jika aku berada pada jalan yang benar maka ikutilah aku.'[272] Apakah seorang yang berakal akan membandingkan orang yang seperti ini dengan orang yang me-ngatakan, 'Tanyailah aku sebelum kalian kehilanganku',[273] 'Tanyailah aku tentang jalan-jalan yang ada di langit. Karena sesungguhnya demi —Allah— aku lebih mengetahui jalan-jalan yang ada di langit dibandingkan jalan-jalan yang ada di bumi.' Ali as juga berkata, 'Sesungguhnya di sini, sambil dia menunjuk ke arah dadanya, terdapat ilmu yang banyak.' Dia juga mengatakan, 'Sekiranya terbuka tirai penutup, tidak akan bertambah keyakinanku.'[274]

Adapun dalam masalah zuhud, dia adalah penghulu orang-orang zuhud. Tidak pernah sekali pun dia makan sampai kenyang. Dia adalah orang yang paling keras di dalam masalah pakaian dan makanan.

Abdullah bin Abi Rafi' berkata, 'Saya masuk menemui Ali bin Abi Thalib pada hari raya. Lalu dia mengambil sebuah kantong tertutup yang berisi roti kering yang telah hancur, kemudian dia pun memakannya.

Saya berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, kenapa Anda menutup kantong tersebut, padahal hanya berisi roti yang telah kering ?'

Ali bin Abi Thalib menjawab, 'Saya takut kedua anak saya akan membubuhinya dengan minyak atau mentega.'"[275]

Pakaian yang dikenakannya selalu bertambalkan kulit atau sabut. Kedua sendalnya terbuat dari sabut. Dia biasa memakai pakaian yang kasar, dan jika kepanjangan, dia memotongnya dengan pisau dan tidak menjahitnya kembali. Makanan yang dimakannya hanya berbumbukan garam atau cuka. Kalaupun lebih dari itu, dia cukup menambahkannya dengan tanaman hasil bumi. Kalaupun lebih baik lagi, dia hanya menambahkan dengan sedikit susu unta. Dia tidak memakan daging kecuali hanya sedikit. Dia berkata, 'Jangan engkau jadikan perutmu menjadi kuburan binatang', meskipun demikian dia adalah manusia yang paling kuat dan paling kokoh.[276]

Adapun dari sisi ibadah, dari dialah manusia belajar salat malam, dawam membaca wirid dan melakukan ibadah-ibadah nafilah. Bagaimana pendapat Anda tentang seorang laki-laki yang dahinya kapalan tidak ubahnya seperti lutut unta. Salah satu bukti bagaimana dia begitu menjaga kewajiban agamanya, dia membentangkan tikar sajadah yang terbuat dari kulit pada saat perang Shiffin. Dia tetap mengerjakan salatnya pada saat anak-anak panah berjatuhan di hadapannya dan melewati kedua telinganya. Dia tidak gentar, dan terus melanjutkan salatnya hingga selesai.

Jika Anda menyimak dan memperhatikan berbagai doa dan munajatnya, serta melihat pengagungan Allah yang terdapat di dalam doanya, dan begitu juga ketundukan akan kebesaran-Nya dan kekhusyukan akan keagungan-Nya, niscaya Anda akan mengetahui betapa besar keikhlasan yang terkandung di dalamnya. Imam Ali Zainal Abidin, setiap malamnya mengerjakan salat sebanyak seribu rakaat, namun dia masih mengatakan, 'Aku tertinggal apabila dibandingkan dengan ibadah Ali.'[277]

Adapun dalam masalah keberanian, Ali bin Abi Thalib adalah tokohnya. Dia adalah seorang pemberani yang tidak pernah lari dari medan perang, dan tidak pernah gentar menghadapi sekelompok pasukan. Tidak ada seorang pun yang datang menantang kecuali pasti dibunuhnya. Tebasan pedangnya hanya sekali tebasan, dan tidak memerlukan kepada tebasan yang kedua.

Di dalam hadis disebutkan bahwa pukulan-pukulan pedangnya ganjil.[278] Orang-orang musyrik, jika melihat Ali di dalam medan peperangan mereka berwasiat kepada satu sama lainnya. Dengan pedangnyalah bangunan agama menjadi kokoh, dan para malaikat merasa kagum akan kehebatan serangan dan pukulan pedangnnya.

Di dalam perang Badar, yang merupakan cobaan berat atas kaum Muslimin, Ali bin Abi Thalib berhasil membunuh pahlawan-pahlawan Quraisy, seperti Walid bin 'Utbah, 'Ash bin Sa'id, dan Naufal bin Khuwailid, yang menahan Abu Bakar dan Thalhah sebelum hijrah. Rasulullah saw telah bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang telah memperkenankan doaku berkenaan dengannya.'[279] Ali bin Abi Thalib terus membunuhi pahlawan-pahlawan Quraisy satu demi satu, sehingga dia berhasil membunuh setengah dari keseluruhan jumlah kaum musyrik yang terbunuh di perang Badar, yang jumlah keseluruhannya sebanyak tujuh puluh orang. Sementara seluruh kaum Muslimin yang lainnya, beserta tiga ribu malaikat, berhasil membunuh setengah yang lainnya.[280] Di sini lah Jibril berkata,

'Tidak ada pedang kecuali Dzul Fiqar, dan tidak ada pemuda kecuali Ali."[281]

Pada saat perang Uhud, manakala kaum Muslimin tercerai berai dari Rasulullah saw, dan Rasulullah saw dibanting ke tanah dan dipukuli dengan tombak dan pedang oleh orang-orang musyrik, Ali as berdiri kokoh di hadapan Rasulullah saw sambil menghunus pedang. Ketika Rasulullah saw melihat kepadanya, setelah siuman dari pingsannya, Rasulullah saw bertanya, 'Wahai Ali, apa yang telah dilakukan oleh kaum Muslimin?'

Ali bin Abi Thalib as menjawab, 'Mereka telah melanggar sumpah dan telah lari dari medan peperangan.'

Rasulullah saw berkata, 'Lindungi aku.' Maka Ali pun membuka kepungan mereka, dan menghadapi sekelompok pasukan demi sekelompok pasukan musuh, sambil memanggil kaum Muslimin, hingga akhirnya mereka kembali berkumpul. Jibril as berkata kepada Rasulullah saw, 'Sungguh ini merupakan pembelaan. Para malaikat merasa kagum dengan pembelaan yang dilakukan oleh Ali untukmu.'

Rasulullah saw berkata, 'Tidak ada yang mencegahnya melakukan itu. Karena dia adalah bagian dariku dan aku bagian darinya.'[282] Karena keteguhan Ali itulah akhirnya sebagian kaum Muslimin kembali lagi, termasuk Usman, yang baru kembali setelah tiga hari. Rasulullah saw berkata kepada Usman. 'Engkau pergi membawa peringatan.'[283]

Pada perang Khandaq, pada saat kaum musyrikin mengepung kota Madinah, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an, '(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai macam sangkaan' (QS. Al-Ahzab: 10), dan Amr bin Abdul Wudd berhasil mendobrak parit kaum Muslimin, serta menantang duel kepada kaum Muslimin, sementara tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang berani menghadapinya, maka tampillah Ali bin Abi Thalib dengan mengenakan sorban Rasulullah saw, sementara tangannya menenteng sebilah pedang. Dengan cepat Ali bin Abi Thalib memukulkan pedangnya kepada Amr bin Abdi Wudd, dengan sebuah pukulan pedang yang menyamai amal perbuatan seluruh jin dan manusia hingga hari kiamat.[284]

Di mana Abu Bakar, Umar dan Utsman pada saat itu?

Orang yang membaca kitab peperangan karya al-Waqidi dan kitab sejarah karya al-Baladzari, niscaya akan mengetahui bagaimana kedudukan Ali di sisi Rasulullah, dari sisi jihad dan keberaniannya pada perang Ahzab, perang Bani Musthaliq, pada saat mengangkat pintu benteng khaibar, dan pada saat perang khaibar. Peristiwa-peristiwa ini merupakan peristiwa-peristiwa yang amat terkenal.

Abu Bakar al-Anbari meriwayatkan di dalam kitabnya al-Amali, Ali duduk di sisi Umar di mesjid, sementara di samping mereka banyak orang yang hadir. Pada saat Ali berdiri dan meninggalkan majlis, salah seorang dari mereka yang hadir mengatakan bahwa Ali itu sombong.

Umar berkata, 'Orang sepertinya berhak untuk sombong. Kalau bukan karena pedangnya tidak akan tegak berdiri pilar-pilar agama. Dia adalah orang yang paling mengetahui di antara umat ini, dan paling mempunyai kedudukan.'

Orang itu bertanya kepada Umar, 'Lantas, apa yang mencegah Anda darinya, wahai Amirul Mukminin?'

Umar menjawab, 'Tidak ada yang kami tidak sukai darinya kecuali karena umurnya yang masih muda, kecintaannya kepada Bani Abdul Muththalib, dan dia yang membawa surat al-Bara'ah ke kota Mekkah.'

Ketika Ali bin Abi Thalib mengajak Muawiyah untuk berduel hingga terbunuh salah seorang dari mereka, guna menghentikan peperangan di antara umat, Amr bin Ash berkata kepada Muawiyah, 'Laki-laki itu telah bertindak adil kepadamu.'

Muawiyah berkata kepada Amr bin Ash, 'Belum pernah sekali pun engkau menipuku di dalam memberikan nasihat kepadaku kecuali pada hari ini. Engkau menyuruhku untuk berduel dengan Abul Hasan, padahal engkau tahu dia adalah seorang pemberani yang perkasa? Aku lihat, tampaknya engkau menginginkan kekuasaan negeri Syam sepeninggalku.'[285]

Orang Arab merasa bangga apabila berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib as di dalam medan peperangan. Kabilah mereka merasa bangga apabila yang membunuh mereka adalah Ali. Hal ini tampak jelas sekali dalam ucapan-ucapan mereka. Ummu Kultsum[286] berkata berkenaan dengan terbunuhnya Amr bin Abdul Wudd,

'Seandainya pembunuh Amr bukanlah pembunuhnya, niscaya aku akan menangisinya selamanya, dan sekejap pun aku tidak mau hidup. Namun, pembunuhnya adalah orang yang tidak ada tandingannya, yang ayahnya telah menganggapnya sebagai orang yang terpandang.'[287]

Adapun tentang kedermawanannya, dialah yang telah menyelesaikan puasanya hingga tiga hari berturut-turut dengan menyedekahkan makanan untuk buka puasanya kepada peminta-minta setiap malamnya. Hingga Allah SWT menurunkan ayat berkenaan dengannya, 'Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?' (QS. Al-Insan: 1)

Kemudian dia menyedekahkan cincinnya ketika ruku, maka turunlah ayat yang berbunyi, 'Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.' (QS. Al-Maidah: 55)

Dia juga bersedekah dengan empat dirham, lalu Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi, 'Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidakpula mereka bersedih hati.' (QS. Al-Baqarah: 274)

Dialah orang yang menyiram kebun pohon korma dengan tangannya dan kemudian menyedekahkan uang upah yang diperoleh darinya. Muawiyah bin Abi Sufyan, yang merupakan musuhnya, manakala Mahjan adh-Dhibbi berkata kepadanya, 'Saya telah datang dari sisi manusia yang paling kikir', mengatakan, 'Celaka engkau, apa yang engkau katakan? Engkau mengatakan dia manusia yang paling kikir? Tidak, seandainya dia mempunyai sebuah rumah yang terbuat dari lempengan emas dan sebuah rumah lagi yang terbuat dari jerami, niscaya terlebih dahulu dia akan menginfakkan rumahnya yang terbuat dari emas, sebelum rumahnya yang terbuat dari jerami.'[288]

Dialah yang telah mengatakan, 'Wahai kuning (emas), wahai putih (perak), bujuklah selain aku. Jauhlah, jauhlah engkau dariku. Sesungguhnya aku telah memberimu talak tiga, yang tidak ada kemungkinan untuk kembali.'[289]

Dialah yang telah merelakan jiwanya dengan tidur di ranjang Rasulullah saw pada malam ketika rumah Rasulullah saw dikepung orang-orang musyrik Quraisy. Hingga Allah SWT menurunkan ayat berkenaan dengannya, Dan di antara manusia ada orang yang mengorbasnkan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.'" (QS. Al-Baqarah: 207)

Yohanes berkata, "Ketika mendengar perkataan ini, tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya. Mereka mengatakan, 'Anda benar. Apa yang Anda katakan ini, kami telah membacanya di dalam kitab-kitab kami, dan kami telah menukilnya dari imam-imam kami. Akan tetapi, kecintaan Allah dan Rasul-Nya dan juga perhatian keduanya adalah sesuatu yang ada di belakang semua ini. Mungkin saja Allah SWT mempunyai perhatian yang lebih besar dibandingkan perhatian yang diberikan-Nya kepada Ali.'

Yohanes berkata, 'Sesungguhnya kita tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak ada yang mengetahui yang ghaib selain Allah. Apa yang Anda katakan ini adalah sebuah kebohongan, padahal Allah SWT telah berfirman, 'Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta.' (QS. adz-Dzariyat: 10) Kita semata-mata hanya menghukumi berdasarkan bukti-bukti yang menunjukkan kelebih-utamaan Ali, dan kemudian kita pun mengemukakan bukti-bukti tersebut.

Adapun mengenai perhatian Allah terhadap Ali as, keutamaan-keutamaan di atas merupakan dalil yang pasti akan besarnya perhatian Allah SWT terhadapnya. Perhatian mana yang lebih baik dari dijadikannya dia oleh Allah SWT sebagai manusia yang paling mulia nasabnya setelah Rasulullah, sebagai manusia yang paling besar kesabarannya, sebagai manusia yang paling berani hatinya, sebagai manusia yang paling banyak jihadnya, paling banyak kezuhudannya, paling banyak ibadahnya, paling tinggi kedermawanannya, paling tinggi kewarakannya, dan sifat-sifat kesempurnaan lainnya yang telah disebutkan. Ini adalah perhatian dari Allah SWT terhadapnya.

Adapun mengenai kecintaan Allah SWT dan Rasul-Nya kepadanya, Rasulullah saw telah memberikan kesaksian tentang hal itu pada banyak kesempatan. Salah satunya adalah apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah saw pada saat perang khaibar, yang tidak ada seorang pun dapat mengingkarinya. Rasulullah saw berkata, 'Besok, saya akan memberikan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.'[290] Kemudian Rasulullah saw memberikan panji tersebut kepada Ali.

Seorang ulama Anda yang bernama Akhthab Kharazmi meriwayatkan di dalam kitabnya yang berjudul al-Manaqib, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, 'Ya Ali, sekiranya seorang hamba beribadah kepada Allah SWT sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nuh kepada kaumnya, dan dia mempunyai emas sebanyak gunung Uhud, lalu diinfakkannya di jalan Allah, serta mempunyai umur yang panjang sehingga dapat menunaikan ibadah haji sebanyak seribu kali, kemudian dia terbunuh di antara Shafa dan Marwa secara teraniaya, namun dia tidak menjadikan kamu sebagai pemimpin, niscaya dia tidak akan bisa mencium baunya surga dan tidak akan bisa memasukinya.'[291]

Di dalam kitab yang sama juga disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, 'Sekiranya manusia sepakat di dalam mencintai Ali bin Abi Thalib, niscaya Allah SWT tidak akan menciptakan neraka.'[292]

Di dalam kitab al-Firdaus disebutkan, 'Kecintaan kepada Ali adalah kebaikan yang bersamanya tidak ada satu pun keburukan yang dapat mendatangkan bahaya, dan kebencian kepadanya adalah keburukan yang bersamanya tidak ada satu pun kebaikan yang dapat mendatangkan manfaat.'[293]

Di dalam kitab Ibnu Khaluyah, dari Hudzaifah bin Yaman yang berkata, 'Rasulullah saw telah bersabda, 'Barangsiapa yang hendak bersedekah dengan batu cincin yakut yang telah Allah SWT ciptakan dengan tangan-Nya, dan kemudian Allah SWT katakan kepadanya, 'jadilah', lalu kemudian batu cincin yakut itu pun jadi, maka hendak-nya dia menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin sepeninggalku'

Pada Musnad Ahmad bin Hanbal, di dalam jilid pertama disebutkan bahwa Rasulullah saw memegang tangan Hasan dan Husain seraya berkata, 'Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua anak ini serta mencintai ayah keduanya, niscaya pada hari kiamat dia akan berada dalam derajatku."'[294]

Yohanes berkata, "Wahai para imam Islam, apakah setelah semua ini masih terdapat pembicaraan tentang perkataan Allah SWT dan Rasul-Nya yang berkaitan dengan kecintaan kepadanya dan pelebihannya atas orang-orang yang tidak memiliki keutamaan-keutamaan ini?'

1 komentar:

  1. Shalawat Dan salam kepada almustafa abul qasim sayyidina WA maulana Muhammad bin abdullah beserta ahlul bayt, ummahatul mukminin, keluarga Dan keturunan beliau.... untuk selama lamanya.

    BalasHapus