Pembicaraan tidak selalu ber arti pemahaman antara dua jiwa Kata-kata yang berasal dari bibir-bibir dan lidah-lidah tidak selalu bisa membawa sepasang hati bersama Ada sesuatu yang lebih agung dan lebih murni dari apa yang diutarakan mulut.

Senin, September 12, 2011

Fathimah; Cahaya di kegelapan



Sekian lama kaum hawa bangsa Arab ketika itu telah menyudutkan dan mengambil jarak dari Hadrat Khadijah as, istri tercinta Rasulullah saw, dikarenakan pernikahan ia dengan Muhammad saw.

Betapa kepedihan dan kesedihan telah meliputi dirinya dan tak seorang pun yang menemani dirinya dikala saat itu Rasulullah saw sedang bepergian, yang bisa dijadikannya sebagai teman untuk mencurahkan kerinduannya di tengah kesepian itu, namun tiba-tiba rasa kesepian itu hilang oleh munculnya suara dari dari seorang janin kemudian berbicara dengan ibunya sembari menghibur dengan untaian kata-kata indah.


Okelah kita tidak mau menjelaskan perihal dialog ibu dan anak tersebut, ihwal apa yang dikatakan oleh janin tersebut dan apa yang didengar oleh sang ibu karena sejarah tidak banyak mengungkapkan atau bahkan tidak bisa membuka tirai dan tidak bisa menyingkap dialog yang penuh rahasia ini. Akan tetapi kita akan alihkan bahwa siapa gerangan bayi atau janin tersebut yang sekian bulan dialognya dengan sang bunda itu tidak diperlihatkan kepada Nabi saw?

Diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumah dan mendengar istrinya, Khadijah as, sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Dengan penuh rasa heran dan takjub, Rasulullah saw bertanya kepada istrinya: duhai istriku, dengan siapa gerangan engkau berbicara?!

Khadijah as menjawab: dengan janin yang ada di dalam kandunganku, ia-lah yang berbicara denganku sehingga membuatku semakin cinta dan keasikan.

Rasulullah saw bersabda: "wahai Khadijah, ketahuilah bahwa malaikat Jibril as pernah berkata kepadaku: janin ini adalah seorang wanita dan Allah Swt menjadikannya sebagai sumber keturunanku dan dari keturunannyalah akan ditentukan para imam yang akan menjadi pengganti setelahku."(al Kharaij wal Jaraij, jilid 2, hal. 524).

Betul bahwa ketika itu alam semesta sedang dalam penantian lahirnya seorang figur wanita yang teragung yang sampai saat ini tak akan pernah ada yang menyamainya, dimana dengan kalahirannya ini akan menjadi suri tauladan dan uswah bagi seluruh wanita alam.

Kini sudah tiba saatnya Khadijah melahirkan bayi tersebut, ia pun meminta tolong dan meminta bantuan dari perempuan-perempuan Arab, namun dengan kedengkian dan iri hati yang mereka miliki terhadap Khadijah maka dengan sangat kasar menolak dan menghindar dari memberikan bantuan kepadanya.

Disaat Ia larut dan tenggelam dalam pikirannya bahwa apa gerangan yang akan dibuatnya, siapa yang akan membantunya dalam kondisi sedemikian ini, tiba-tiba muncul empat orang wanita yang berparas tinggi yang seakan-seakan keempat wanita tersebut dari keturunan bani Hasyim

Melihat mereka, tubuh Khadijah langsung menggigil dan bergetar karena sebelumnya ia tak pernah melihat keempat wanita tersebut. Salah seorang dari mereka berkata: wahai Khadijah! Janganlah engkau bersedih; karena kami ini adalah utusan Tuhan-mu. Saya adalah Sara dan ini Asiyah putrid Muzahim dan ini adalah Maryam dan yang satunya lagi adalah Kultsum saudari Musa bin 'Imran. Allah Swt mengutus kami guna membantu kamu melahirkan bayi tersebut.

Keempat wanita ini pun berada di sebelah kanan dan kiri serta di sebelah kepala dan kaki Khadijah, beberapa detik kemudian lahirnya bayi tersebut…bayi itu adalah Hadrat Fathimah Az Zahra as…ia lahir ke dunia untuk menerangi alam semesta, setelah ia menerangi langit dengan cahayanya. Dengan ini, ketika Fathimah as lahir cahaya muncul dari dirinya yang mana menerangi seluruh rumah-rumah di kota Makkah yang ketika itu tenggelam di kegelapan malam dan tak ada satu pun tempat di ala mini, di barat dan di timur yang tidak dipenuhi cahaya Fathimah as.

Fathimah as dimandikan dengan al kautsar dan dibungkus dengan dua lembar kain dan mereka meminta supaya ia berbicara.

Fathimah as, dengan kehendak Allah Swt, menggerakkan bibirnya dan bersaksi bahwa Muhammad saw adalah nabi dan utusan Allah Swt dan bersaksi pula akan keimaman Imam Ali as dan keimaman dua belas putranya.( al Kharaij wal Jaraij, jilid 2, hal. 524).

Sejarawan menuliskan bahwa hari lahir Sayidah Fathimah as adalah pada tanggal 20 Jumadi al Tsani tahun kelima bi'tsat.

Al marhum Syaikh Mufid terkait dengan hari lahir yang penuh berkah ini, menuliskan:

Tanggal 20 Jumadil Akhir merupakan suatu hari dimana putrid Rasulullah saw, Sayidah Fathimah as, dilahirkan dan itu merupakan suatu hari dimana seluruh kebahagiaan kaum mukminin diperbaharui kembali, dengan itu dianjurkan (mustahab) pada hari wiladah Sayidah Fathimah as untuk melakukan amalan dan perbuatan baik dan bersedekah kepada para fakir dan miskin. (Masar Al Syi'ah, hal. 31). (sumber: Fathimah as Ulguy-e Hayat-e ziba, karya: Muhammad Jawad Murawwiji Thabasi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar