Pembicaraan tidak selalu ber arti pemahaman antara dua jiwa Kata-kata yang berasal dari bibir-bibir dan lidah-lidah tidak selalu bisa membawa sepasang hati bersama Ada sesuatu yang lebih agung dan lebih murni dari apa yang diutarakan mulut.

Selasa, Februari 01, 2011

Belajar Mengapresiasi


Seorang anak muda yang baru lulus dari universitas memohon kerja sebagai manajer di sebuah perusahaan yang besar. Anak muda itu lulus dalam sesi wawancara pertama dan keputusan keputusan akhir berada di tangan sang direktur pada wawancara sesi terakhir. Direktur perusahaan melihat prestasi akademik anak muda ini cemerlang sejak sekolah menengah pertama hingga lulus universitas. Sang direktur bertanya, "Apakah anda mendapat biasiswa di sekolah?"
Anak muda tersebut menjawab; "Tidak".

Sang direktor bertanya lagi, "Adakah ayah anda yang membiayai sekolah anda?" Anak muda itu menjawab, "Ayah saya meninggal dunia ketika saya berusia setahun, ibu saya yang menanggung biaya sekolah saya selama ini".
Sang direktur bertanya, "Di mana ibu anda bekerja?" Anak muda itu menjawab, "Ibu saya bekerja sebagai pencuci pakaian". Sang direktor meminta anak muda tersebut menghulurkan tangannya. Tangan anak muda itu kelihatan halus dan lembut.
Sang direktur bertanya, "Pernahkah anda membantu ibu anda bekerja?" Anak muda itu menjawab, "Tidak, ibu saya senantiasa meminta saya belajar dan membaca buku. Lagi pula ibu saya mencuci pakaian lebih cepat dari saya".
Sang direktur berkata, "Saya mempunyai sebuah permintaan. Sewaktu anda pulang hari ini, cucilah tangan ibu anda, dan keesokan harinya temuilah saya".
Anak muda tersebut merasakan punya peluang yang cukup tinggi untuk mendapat kerja. Ketika ia pulang, ia meminta ibunya membolehkannya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa aneh, gembira dan dengan perasaan bercampur baur, ia menunjukkan tangannya pada sang anak.
Anak muda tersebut mulai membersihkan tangan ibunya secara perlahan-lahan. Air mata mula menitik. Itulah untuk pertama kalinya ia melihat tangan ibunya yang kasar dan penuh luka-luka. Sebagian luka begitu sakit sehingga si ibu menggigil saat dibersihkan dengan air.
Inilah kali pertama anak muda tersebut menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang bekerja keras demi membiayai sekolahnya. Luka-luka ditangan ibunya itulah merupakan harga yang harus dibayar demi membiayai sekolah dan masa depannya.
Selepas selesai membersihkan tangan sang ibu, anak muda itu mulai mencuci pakaian yang masih tersisa untuk ibunya.
Keesokan hari, anak muda itu pergi ke kantor tersebut. Sang direktur menyadari ada titik-titik air mata yang tergenang dalam mata anak muda itu. Ia bertanya, "Sudikah anda menceritakan apa yang telah anda lakukan kemarin dan apa saja yang telah anda pelajari??"
Anak muda itu menjawab, "Saya membersihkan tangan ibu saya dan turut membantu mencuci pakaian yang masih tersisa".
Sang direktur berkata, "Tolong nyatakan perasaan anda".
Anak muda itu berkata, Pertama, kini saya memahami apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, sudah pasti saya tidak akan berhasil seperti hari ini. Kedua, dengan bekerja bersama dan membantu ibu, saya kini memahami sesungguhnya begitu sulit untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Ketiga, kini saya mula mengapresiasi kepentingan dan nilai hubungan kekeluargaan.
Sang direktur lalu berkata, "Inilah yang saya cari untuk mengisi jabatan manajer. Saya ingin merekrut orang yang bisa mengapresiasi bantuan orang lain. Orang yang memahami penderitaan orang lain dalam menyelesaikan tugasnya, dan seorang yang tidak melihat uang sebagai satu-satunya dalam kehidupannya. Anda diterima bekerja di sini.
Kemudian, anak muda ini bekerja keras, dan dihormati oleh teman-teman sekerjanya. Setiap pekerja bekerja keras sebagai sebuah tim. Perusahaan tersebut mencapai hasil yang memuaskan.
Seorang anak, yang terbiasa dilindungi dan diberi apa saja yang dikehendaki akan menumbuhkan mentalitas yang senantiasa mementingkan dirinya terlebih dahulu. Ia tidak menghargai usaha dan kesulitan yang dirasakan oleh ibu dan ayahnya. Saat ia mulai bekerja, ia berasumsi bahwa semua orang harus mendengar kata-katanya. Saat ia menjadi manajer, ia tidak pernah tahu atau ingin ambil tahu akan kesulitan dan usaha orang lain dan senantiasa akan menyalahkan orang lain. Orang seperti ini, sekalipun pendidikannya tinggi, tapi sebenarnya ia tidak akan dapat merasa atau menikmati keberhasilan. Ia hanya akan mengeluh dan dipenuhi dengan rasa benci.
Anda bisa memanjakan anak-anak anda, tinggal di rumah yang besar, belajar piano, menonton tv dan sebagainya. Tetapi ketika anda melakukan pekerjaan, biarlah mereka turut merasakannya. Selepas makan, biarlah mereka turut membantu mencuci piring dan sebagainya. Bukan karena anda tidak mampu mempunyai pembantu rumah, tetapi anda ingin mencintai mereka dengan jalan yang benar. Anda ingin mereka memahami. Yang paling penting ialah anak anda belajar mengapresiasi upaya dan merasai kesulitan serta belajar untuk bisa bekerja dengan orang lain.
(IRIB/NA/SL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar