Pembicaraan tidak selalu ber arti pemahaman antara dua jiwa Kata-kata yang berasal dari bibir-bibir dan lidah-lidah tidak selalu bisa membawa sepasang hati bersama Ada sesuatu yang lebih agung dan lebih murni dari apa yang diutarakan mulut.

Sabtu, April 09, 2011

SPIONASE AMERIKA SERIKAT DI INDONESIA

Presiden ‘Korup’, Keluarga Presiden ‘Kemaruk’, TB Silalahi ‘Informan’ Amerika di Istana Negara, Kata Telegram Diplomat Amerika di Wikileaks


Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta menggunakan orang-orang di lingkaran dekat kekuasaan untuk melakukan kegiatan spionase atas pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kata koran-koran Australia yang mendapatkan hak penayangan eksklusif atas telegram diplomat Amerika yang dibocorkan oleh situs Wikileaks.

Pemeriksaan Islam Times atas laporan sekaitan itu di koran-koran yang menginduk pada Fairfax Media, konglomerasi media massa di Australia, menunjukkan hal-hal berikut:

- Spionase Kedutan Amerika atas presiden banyak mengandalkan informasi dari Tiopan Bernhard Silalahi, bekas petinggi militer yang sejak 2006 menjadi penasehat keamanan presiden. Telegram menyebut TB Silalahi, pernah mengambil kursus militer di Amerika Serikat, sebagai ‘informasi paling berharga’.

- TB Silalahi termasuk yang membisikkan ke telinga diplomat Amerika di Jakarta kalau Presiden Susilo sendiri yang meminta pejabat senior Kejaksaan Agung untuk berhenti dari usaha menjerat Taufik Kiemas, suami bekas Presiden Megawati Soekarnoputri, dalam sejumlah kasus tender ratusan miliar rupiah. Telegram menggambarkan Taufik “sudah tersohor dengan korupsinya sejak kekuasaan Megawati”.

- Kedutaan Amerika punya informan di kalangan Partai Golkar, utamanya pada sejumlah kandidat yang berlaga dalam Kongres Partai Golkar pada Desember 2004. Informan-informan ini lah yang membisikkan ke telinga diplomat Amerika kalau Jusuf Kalla keluar uang paling tidak US$ 6 juta untuk memenangkan kongres.

- Informan-informan Kedutaan Amerika di lingkaran dekat kekuasaan dan juga Partai Kebangkitan Bangsa. Informan-informan ini intinya membisikkan sejumlah hal yang mengisyaratkan kalau Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi, “mengintimidasi” hakim yang menangani persidangan sengketa kepemilikan Partai Kebangkitan Bangsa, demi menutup kemungkinan kemenangan kubu almarhum bekas Presiden Abdurrahman Wahid.

- Yahya Asagaf, seseorang yang dalam berita Fairfax Media digambarkan sebagai ‘pejabat senior Badan Intelejen Negara (BIN)’ telah mensuplai informasi ke diplomat Amerika di Jakarta. Yahya antara lain membisikkan kalau presiden menggunakan BIN untuk memata-matai musuh-musuh politiknya, termasuk seorang menterinya sendiri. Spionase itu, kata koran-koran Australia, menimpa Jenderal Wiranto. Yahya juga mensuplai informasi ke diplomat Amerika kalau presiden, via TB Silalahi, punya hubungan dekat dan mendapat dukungan dana besar dari Tomy Winata, pengusaha yang digambarkan dalam telegram sebagai bos besar “Sembilan Naga”, sindikat perjudian di Indonesia.

- Agung Laksono pernah membisikkan informasi ke diplomat Amerika yang intinya kalau TB Silalahi lah yang menjadi “orang penengah, yang memindahkan uang Tomy Winata ke Yudhoyono, demi melindungi presiden dari masalah yang kemungkinan muncul jika presiden sendiri yang langsung berhubungan.

- Diplomat Amerika juga mendapat informasi kalau Tomy Winata menggunakan ‘Muhammad Lutfi’, seorang pengusaha muda, untuk menyalurkan ‘bantuan’ dana ke Presiden Susilo. Lutfi belakangan adalah orang kepercayaan Presiden di Badan Koordinasi Penanaman Modal.

- Pejabat senior BIN, Yahya Asagaf, membisikkan ke diplomat Amerika kalau Tomy Winata berusaha memupuk pengaruh dengan penggunakan salah satu tangan kanan presiden untuk mencuri perhatian Kristiani Herawati, istri presiden.

- Telegram diplomat Amerika menggambarkan keluarga-keluar presiden “khususnya Kristiani Herawati … mengeduk keuntungan dari posisi politis mereka.”

- Pada Juni 2006, seorang staf presiden membisikkan ke diplomat Amerika kalau anggota keluarga Presiden Susilo “mengincar peluang-peluang bisnis di BUMN.”

- Telegra diplomat Amerika menggambarkan Herawati sebagai “penasehat presiden yang tak punya lawan.” Merujuk dari informasi Yahya Asagaf, diplomat Amerika mengabarkan ke Washington kalau opini Kristiani dalam banyak hal menjadi “satu-satunya yang jadi pertimbangan” presiden dalam mengambil keputusan.

- Informan Kedutaan Amerika di kalangan LSM membisikkan kabar kalau mereka telah menerima informasi “kredibel” kalau dana penalangan Bank Century dipakai untuk membiayai kampanye pemilu presiden pada 2009. DPR belakangan menyelidiki hal ini, menemukan sejumlah pelanggaran serius dan merekomendasikan pemeriksaan hukum atas bekas menteri keuangan Sri Mulyani dan Boediono.

Publikasi telegram diplomat Amerika Serikat oleh koran-koran Australia hari ini bertepatan dengan kunjungan wakil presiden Boediono ke Australia. Sementara itu, pemerintah sejauh ini menyatakan akan memanggil Duta Besar Amerika Serikat, Scot Alan Marciel. Jakarta akan protes keras, kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, ke situs Detik.com. (DarutTaqrib/Islam Times/sa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar